Cari Blog Ini

Selasa, 20 Maret 2012

K.A.N.G.E.N

"Aduh.." sudah lama sekali sebelum akhirnya datang juga di waktu yang kurang pas. Mungkin karena asik begadang nonton pertandingan bola tadi malam, sakit di sebelah kiri kepalaku kambuh. Sejak masih duduk di bangku SD aku sering merasa ngilu di sebelah kiri kepalaku. Ga ada masalah, kata itu yang selalu aku dengar setiap kali ayah mengajaku kedokter. Memasuki tahun-tahun di Madrasah Tsanawiah (setingkat SMP) di desaku, sakit kepala sebelah itu sudah jarang sekali mampir. Kalau terlalu capek bermain bola saja kadang kambuh. Ah terlalu lama untuk urusan sakit kepala yang tidak aku ketahui namanya ini, nanti-nanti saja aku ceritakan lebih lengkap.:)

Satu dua suara ayam mulai berkokok pagi itu, tidak ketinggalan suara jangkrik menambah rame, orkesta yang selalu saja seperti itu menghiasi pagi di kampungku. Tak ingin terlambat pergi, aku langsung bergegas. Selimut coklat bergaris putih masih sempurna tergeletak diatas ranjang tidurku, berantakan.  Biar lah masih bisa ku rapikan nanti sepulangku dari pasar. Segayung air cukup untuk membasuh mukaku, biar rada segerr. Dua bulan hujan tidak kunjung turun, sudah menjadi kebiasaan seperti telah di jadwal oleh sang maha adil. Jaket kulit butut yang sudah tak jelas lagi warnanya sudah aku pake.

Namanya juga motor tua, jadi harus pemanasan dulu sebelum diajak pergi, kalau tidak mau mati dijalanan. Suara nyaringnya masih terdengar dari jarak seratus meter.
"Mau kemana nak? ko buru-buru banget, ga sarapan dulu?", Ibuku, wanita paruh baya yang selalu sayang anak-anaknya mengomentariku yang sedari tadi bolak-balik menyiapkan motor yamaha bututku, suara khasnya selalu saja terdengar tenang di hatiku. Bapak terlihat khusuk dengan koran kemaren yang belum selsai dibaca , sesekali melirik ke arahku. Yamaha 80 berwarna merah yang ayah beli dari temanya itu masih lumayan bandel  untuk ukuran motor butut sekelasnya, yah walaupuntebeng depan sudah aku copot. Rusak sewaktu dipakai latian kakaku dulu, tapi tak mengurangi kegagahanya. Spion bundernya yang klasik masih terlihat rapi di tempatnya. Suaranya yang keras kadang membuat tidak enak hati ketika harus pulang malam dari bepergian, tentu saja menggaggu tetangga. Lagi-lagi harus di maklumi, motor dua tak bergigi tiga yang 10 tahun lebih tua daripada aku memang suaranya keras.