"Aduh.." sudah lama sekali sebelum akhirnya datang juga di waktu yang kurang pas. Mungkin karena asik begadang nonton pertandingan bola tadi malam, sakit di sebelah kiri kepalaku kambuh. Sejak masih duduk di bangku SD aku sering merasa ngilu di sebelah kiri kepalaku. Ga ada masalah, kata itu yang selalu aku dengar setiap kali ayah mengajaku kedokter. Memasuki tahun-tahun di Madrasah Tsanawiah (setingkat SMP) di desaku, sakit kepala sebelah itu sudah jarang sekali mampir. Kalau terlalu capek bermain bola saja kadang kambuh. Ah terlalu lama untuk urusan sakit kepala yang tidak aku ketahui namanya ini, nanti-nanti saja aku ceritakan lebih lengkap.:)
Satu dua suara ayam mulai berkokok pagi itu, tidak ketinggalan suara jangkrik menambah rame, orkesta yang selalu saja seperti itu menghiasi pagi di kampungku. Tak ingin terlambat pergi, aku langsung bergegas. Selimut coklat bergaris putih masih sempurna tergeletak diatas ranjang tidurku, berantakan. Biar lah masih bisa ku rapikan nanti sepulangku dari pasar. Segayung air cukup untuk membasuh mukaku, biar rada segerr. Dua bulan hujan tidak kunjung turun, sudah menjadi kebiasaan seperti telah di jadwal oleh sang maha adil. Jaket kulit butut yang sudah tak jelas lagi warnanya sudah aku pake.
Namanya juga motor tua, jadi harus pemanasan dulu sebelum diajak pergi, kalau tidak mau mati dijalanan. Suara nyaringnya masih terdengar dari jarak seratus meter.
"Mau kemana nak? ko buru-buru banget, ga sarapan dulu?", Ibuku, wanita paruh baya yang selalu sayang anak-anaknya mengomentariku yang sedari tadi bolak-balik menyiapkan motor yamaha bututku, suara khasnya selalu saja terdengar tenang di hatiku. Bapak terlihat khusuk dengan koran kemaren yang belum selsai dibaca , sesekali melirik ke arahku. Yamaha 80 berwarna merah yang ayah beli dari temanya itu masih lumayan bandel untuk ukuran motor butut sekelasnya, yah walaupuntebeng depan sudah aku copot. Rusak sewaktu dipakai latian kakaku dulu, tapi tak mengurangi kegagahanya. Spion bundernya yang klasik masih terlihat rapi di tempatnya. Suaranya yang keras kadang membuat tidak enak hati ketika harus pulang malam dari bepergian, tentu saja menggaggu tetangga. Lagi-lagi harus di maklumi, motor dua tak bergigi tiga yang 10 tahun lebih tua daripada aku memang suaranya keras.
"makan dulu nak, setelah makan baru pergi, lagian baru jam segini",ibu yang sedari tadi memperhatikanku kembali mengingatkanku untuk makan. Beruntung sekali aku yang mempunyai seorang ibu penuh cinta.
"nanti saja lah bu, makan di pasar saja, takut kesiangan", jawabku. Sudah tak sabar ingin sekali pergi.
"mau pergi kemana sepagi ini nak?"
"ke pasar hewan bu, mumpung wage, mau beli burung merpati", mantap aku menjelaskan supaya ibu tak perlu repot bertanya lagi, pikirku. Kebetulan hari libur nasional jadi tidak ada kegiatan di sekolah. Hmmm hari ini akan menjadi hari paling indah dalam hidupku, selasa wage.pikirku.
Sudah hampir satu bulan aku tabung uang jajan sekolahku, sekarang uangnya sudah cukup untuk membeli sepasang merpati yang aku inginkan. Akan sangat menyenangkan bisa bermain merpati dengan anak-anak desa yang lain sepulang sekolah nanti.
Kutarik retsleting jaketku, helm batok hitam sudah terpasang rapi menutup kepalaku. Jaga-jaga siapa tahu ada razia polisi di jalan raya nanti.
"Assalamualaikum...", kuraih tangan ibu, kubungkukan badan untuk mencium tangan lembutnya sebagai tanda hormat berpamitan.
"waalaikumsalam, ati-ati dijalan",jawabnya lirih.
Matahari masih bersembunyi dibalik pegunungan waktu motor bututku membelah jalanan desa yang aspalnya mulai hilang, lubang-lubang jalan yang sudah tidak bisa disebut kecil mengantarku jauh sampe jalan raya sana. Kerikil split bekas aspal sudah merangsek kepinggir sangking seringnya dilewati ban-ban kendaraan. Udara pagi masih menyisakan dingin sejuk malam, kabut putih menutup pandangan sejauh mata memandang, bagai kapas yang berserakan menggantung disana sini membungkus udara kampung. Embun pagi bergelayut di pucuk dedaunan bak jamrud. Hamparan hijau di kanan kiri jalan menambah damai desaku. Sesekali burung-burung padi bercicuit saling sapa.Adalah satu jam aku duduk di jok yamahaku, kecepatanya yang mentok di 60km/jam memaksaku bersabar untuk sampai. Semuanya berjalan persis seperti rencanaku sebulan yang lalu, saat merpati megan temanku memenangkan lomba di kecamatan.
Pasar wage selalu penuh sesak orang, selain buka seminggu sekali pasar ini jadi rame karena harga penjualanya juga relatif murah, ditambah libur sekolah. Menurutku pasar ini sudah pantas dikatakan lengkap. Dari pakaian jadi, kain, kebutuhan-kebutuhan sehari-hari sampe hewan seperti kambing, sapi ada di pasar ini. Pasar ini biasanya juga disebut pasar hewan, jadi tidak salah kalo aku datang kesini untuk membeli sepasang merpati.
Setelah lama berdesak-desakan dengan pembeli yang lain, akhirnya merpati dengan warna sama seperti merpati temanku itu aku beli. Beruntung aku bisa datang cepat jadi belum terlalu ramai, belum lagi panas pasar yang tidak pernah bosan menyelimuti pasar. Musim ketiga memang panas.
Pasar sudah mulai ramai dengan segala aktifitasnya ketika aku memutuskan untuk pulang. Satu gelasdawet ayu banjarnegara, begitu yang tertulis di gerobak dorong berwarna hijau, cukup menyegarkan tenggorokanku yang kering. Tidak sabar ingin langsung memperlihatkan merpati baru ke teman-teman, aku langsung pulang.
Panas terik matahari yang menyengat tidak aku hiraukan, kini yamaha 80ku turut menghiasi jalanan kota, berjalan zig zag membelah kemacetan, menelusuri deretan mobil-mobil elit dan angkutan kota. Perasaan senang memang selalu mengalahkan rasa capek, itulah yang sedang aku rasakan saat itu. Sampai d pertigaan jalan lingkar persis sebelum gang masuk ke kampungku, tiba-tiba
BBBBRAAAKKKKKKKKKK........! @#$%^
Bapak-bapak berkumis tanpa helm berusia 30an menabraku dari belakang. Lampu sein coklat sudah terpisah dari motor bututku, spakbor dan lampu belakang sudah tak berbentuk, knalpot berisik nya penyok. Aku terpelanting 3 meter ke trotoar jalan. Dua motor terbanting ke aspal jalan raya menimbulkan suara lumayan keras. Pikiran bercampur aduk, merati itu sejenak enyah dari pikiranku. Badanku bergetar hebat, aku merasakan seluruh badanku lemas lunglai sampe akhirnya hanya gelap yang aku liat, tak ada lagi teriakan-teriakan orang yang menyaksikan kejadian itu, suara klakson kendaraan disekitar sudak tidak aku dengar lagi.
Adalah dua jam aku pingsan tidak sadarkan diri. Bau obat menyengat waktu aku tersadar, ruangan kecil bercat putih, korden, bantal dan semua yang berwarna putih memberitahuku kalau aku sedang berada di rumah sakit. Kaki, lengan serta kepalaku penuh balutan kain kasa. Tidak ada lagi motor yamaha 80 butut, aku baru ingat beberapa menit kemudian soal burung merpatiku yang entah dimana sekarang.
Ah kejadian itu memang tidak akan pernah aku lupakan, aku menggumam dalam hati. Foto ini selalu saja mengingatkan kejadian naasku tiga tahun yang lalu. Sambil ku andangi foto anak Aliyah duduk tanpa gaya di motor yamaha 80. Kejadian itu masih menyisakan tanda dibeberapa bagian tubuhku. Lutut dan lengan sebelah kiriku masih sering terasa sakit jika musim dingin di negri firaun datang seperti sekarang ini. Dinginya selalu saja menusuk sumsum meski semuanya sudah kubungkus rapat dengan pakaian-pakaian tebal dan ribet. Berbeda sekali dengan sejuk pagi di desakuu dulu.
Dua tahun di negri orang menggoreskan kerinduan yang mendalam, rindu akan tanah kelahiranku yang selalu menyisakan kenangan. Senyum tulus seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Bapak yang selalu serius tanpa basa-basi, selalu menanamkan arti kejujuran. Teman-temanku yang selalu terlihat riang. Juga kekasih-kekasih cinta monyet yang selalu mengundang senyum jika aku mengingatnya.
desaku, ibu, bapak, keluarga, teman-temanku, serta kekasih cinta monyetku kaifa halukum? Aku kangen kalian semua. Semoga semuanya baik. :)
Kusimpan kembali foto-foto kenanganku waktu Madrasah Aliyahku (setingkat SMA) rapi diatas CPU komputerku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar